Maenan Petinggi Indonesia (Maen Yoyo)
Perang Analogi Awal Mulanya
Saling menyerang antar lawan adalah biasa. Memang itulah hukum alamnya dalam sebuah pertarungan. Seperti dalam tinju, setiap petarung berlomba melancarkan jab, hook atau uppercut ke perut, ulu hati mapun dagu masing-masing, yang tidak mungkin tidak akan berhasil mengucurkan darah atau merontokan gigi depan. Begitu pula dalam percaturan politik, para petinggi bertarung dengan ‘hook, uppercut, jab’-nya masing-masing. Tentunya tidak sedenotatif pada ring tinju, lebih halus. Media massa tentu sebagai arenanya.
Sedang hangat diberitakan, tentang komentar Mantan Presiden Megawati mengenai kebijakan pemerintah sekarang yang menaik-turunkan harga BBM, Mega menyebutkan bahwa seakan-akan rakyat dijadikan mainan yo-yo. Yang segera dibalas oleh pemerintahan SBY dengan jurus ‘gasing’; pemerintahan ‘gasing’ hanya berputar di tempat, cenderung melubangi hingga merusak. Begitulah kira-kira saling ‘nyela’ ala para petinggi. Tidak jauh berbeda juga dengan kita-kita, kaum pandir yang terbatas otaknya ini.
Sebenarnya, saya tidak ambil pusing mengenai ‘perang analogi’ ini. Yang membuat saya tertarik adalah kenapa Megawati tiba-tiba teringat yo-yo? Kenapa tidak menggunakan istilah “panjat pinang”? Menurut saya, sama-sama merefleksikan kondisi naik-turun. Dilihat dari segi historisnya, lebih meng-Indonesia panjat pinang, yang jelas-jelas memanjat pohon pinang adalah ritual rakyat saat tujuhbelasan. Mari kita sedikit telaah mengenai mainan yo-yo ini. Biar semua pihak yang penasaran -seperti saya- akan terpuaskan (baca: curiousity can kill, not just a cat).
Asal Muasal
Konon katanya, sebagian besar orang percaya permainan ini berasal dari China, tetapi sebetulnya permainan ini telah ditemukan di Yunani 500 tahun sebelum Masehi. Mainan purba ini dibuat dari kayu, logam atau tanah liat (lempung) yang dilukis. Dulu dikenal dengan nama piringan saja, karena bentuknya memang pipih, tidak setebal dan sebulat sekarang. Kebiasaan di Yunani, ketika seorang anak laki-laki menjelang remaja, mereka bermain yo-yo untuk memuja para Dewa.
Sejarah lain yang penting menyebutkan bahwa pada abad ke 16 di Filipina. Para pemburu naik ke atas pohon dan mengikatkan batu pada tali panjang yang dapat dilemparkan dan ditarik kembali ke atas untuk menyerang binatang buas. Dari sinilah berkembang mainan yo-yo yang terkenal itu. Catatan lain menyebutkan pada tahun 1765 di India, ada kotak kayu berlukiskan seorang gadis berbaju merah yang sedang bermain yo-yo. Dalam kurun waktu 25 tahun kemudian, yo-yo merambah dari kawasan oriental ke Eropa, yaitu ke kalangan atas Skotlandia dan Perancis sampai Inggris. Sebagaimana perjalanannya, namanya pun mengalami perubahan.
Di Perancis, terdapat sebuah lukisan tertanggal tahun 1789 yang menggambarkan Raja Louis XVII kecil berusia empat tahun, memegang sebuah l’emigrette. Pada masa itu adalah saat Revolusi Perancis sedang terjadi dan dikenal dengan “Kekuasaan Teror”, sehingga banyak para aristokrat Perancis terpaksa berhijrah ke Jerman atau menyebrang ke daerah lain. Saat perjalanan hijrah tersebut, mereka mengadopsi permainan yo-yo dari para petani yang kala itu terbuat dari gelas dan gading. L’emigrette adalah sebutan orang Perancis yang berarti ‘meninggalkan negeri’. Nama lain untuk yo-yo pada masa itu adalah de Coblenz, nama sebuah kota tempat pelarian orang Perancis. Istilah-istilah ini merefleksikan hubungan historis yang penting antara permainan yo-yo ini dengan Revolusi Perancis.

Fungsi permainan yo-yo sebagai penghilang stress terlihat dari cerita-cerita sejarah dibawah ini. Sementara mainan ini dijadikan trend oleh para bangsawan Perancis, bagi mereka yang kurang beruntung mengatakan mereka memainkan yo-yo untuk mengurangi ketegangan menuju penghukuman, papan guillotine. Tertanggal tahun 1780, ada gambar yang menunjukkan Jenderal Lafayette beserta para prajuritnya sedang mengayun-ayunkan yo-yo-nya. Yo-yo tiba di kota Paris pada tahun 1791 dan seketika menyebar dengan sebutan “joujou de Normandie”. Sebagian percaya bahwa istilah inilah akar dari sebutan yo-yo sekarang. Ketertarikan pada mainan ini terus berkembang sampai diadopsi pada sebuah drama berjudul “The Marriage of Figaro” pada tahun 1792 oleh dramawan Beaumarchais yang terkenal. Ada sebuah adegan dimana tokoh Figaro yang tengah gugup berusaha untuk menenangkan dirinya dengan bermain yo-yo alih-alih menggemeretakkan jari-jemarinya. Ketika ditanyakan kepada Figaro apa enaknya memainkan yo-yo dia menjawab “ini mainan yang bagus, dapat menghilangkan kepenatan pikiran”. Bahkan pada 18 Juni 1815 pada peperangan yang terkenal di Waterloo, Napoleon dan pasukannya sering terlihat memainkan yo-yo sebelum berperang.

Keranjingan yo-yo ini terus menyebar di seluruh Eropa melalui Inggris, Skotlandia dan Perancis. Orang Inggris menggunakan istilah bandalore untuk mainan ini. Pada tahun 1791, sebuah gambar menunjukkan Pangeran Wales (George IV), mengayunkan bandalore-nya. Yo-yo ini pun terkenal dengan sebutan ‘Mainan Pangeran Wales’ sehingga setiap orang merasa harus memilikinya. Popularitas yo-yo di Inggris makin terlihat pada akhir 1862 ketika sebuah lukisan menggambarkan dua orang gadis menakut-nakuti seorang wanita tua dengan yo-yo mereka.
Di Amerika, tercatat pada tahun1866 ketika dua orang laki-laki menerima hak paten untuk penemuan mereka yaitu ‘bandalore yang diimprovisasi’. Satu tahun kemudian, imigran Jerman Charles Kirchof mematenkan dan memproduksi yo-yo. Sejak saat itu sampai tahun 1911, SAS (Scientific American Supplement) mempublikasikan sebuah artikel berjudul “Filipino Toys” yang kemudian dikenal dengan nama yo-yo sampai sekarang. Sebagian orang menerjemahkan kata Filipina ini sebagai ‘datang-datang’ atau ‘kembali’.
Sementara itu, kembali ke Filipina, penduduk disana semakin ahli dalam membuat dan menggunakan mainan tersebut. Mereka menjadi pemahat kayu dan pemain yo-yo yang ulung sejak anak-anak. Tidak mengejutkan jika pada tahun 1920 seorang bernama Pedro Flores mebawa mainan ini ke Amerika dan pada tahun 1928 membuka perusahaan yo-yo di California. Pada tahun 1946 seorang pengusaha bernama Donald F. Duncan Sr. tertarik pada yo-yo buatan Flores ini, sehingga ide dan perusahaan Pedro Flores ini dibeli olehnya. Mulai dari saat itulah yo-yo menjadi bisnis mainan besar dan menguntungkan. Kemudian perusahaan Duncan pindah dari California ke kota Luck di Wisconsin yang kemudian dikenal menjadi “Ibukota-nya Yo-yo” dimana yo-yo diproduksi sebanyak 3600 buah per jam.
Kembali ke Perang Analogi
Setelah melihat sejarahnya yang cukup detail, Megawati agak kurang tepat menggunakan istilah yo-yo untuk kebijakan pemerintah SBY. Mainan ini berkesan positif, dilihat dari nilai historis dan fungsinya. Dimainkan oleh para Raja, Jenderal Perang, Pangeran, Dramawan yang merambah dari tahun 500 SM sampai pada tahun 1950-an produksi yo-yo dikelola secara profesional dimana produksinya mencapai 3600 buah per jam. Begitu mendunia, begitu massal, begitu noble. Banyak istilah lain yang bisa digunakan untuk kondisi ‘naik-turun’ ini, tetapi semuanya kembali pada Sang Komentator. Mungkin, analisa simpelnya adalah makna mainannya. Bukan yoyo-nya. Mega secara tidak langsung ingin menegaskan bahwa rakyat adalah mainan bagi pemerintahan sekarang. Inilah kenapa Mega memilih yo-yo alih-alih katrol, timba sumur atau gadget lain yang lebih serius fungsinya. Lalu bagaimana pula dengan Gasing??? :D
ps. bila ingin membaca sejarah yo-yo lebih lengkap http://www.spintastics.com/HistoryOfYoYo.asp


yoyo = gasing apa bedanya, sama2 bikin pusing, artinya yang maenin kita kaya yoyo n gasing bikin kita pusing y…. search yoyo-nya keren, keep up the good history post