Samurai
Membaca buku Samurai karya Takashi Matsuoka cukup memberikan gambaran banyak tentang Samurai. Samurai merupakan kata yang diturunkan dari bahasa Jepang klasik yaitu Samorau yang berubah menjadi Saborau yang berarti ‘melayani’; oleh karenanya seorang Saborau adalah seorang pelayan, pelayan seorang Tuan. Walaupun tidak menutup kemungkinan bagi para Samurai itu untuk tidak mempunyai Tuan, istilah bagi Samurai seperti ini adalah Ronin. Pada zaman Edo istilah yang lebih umum digunakan adalah Samurai. Pada zaman inilah pengaruh seorang Samurai sangat tinggi dalam bidang politik, kasta mereka ada di tingkatan teratas. Mereka bisa menjadi anggota dewan, birokrat dan tenaga administrasi alih-alih sebagai prajurit untuk berperang. Setelah tidak ada lagi perang sejak awal abad 17, pada masa ini Samurai kehilangan fungsi kemiliterannya sehingga wakizashi dan katana hanya berupa sebuah simbol status.
Filsafat Budha, Zen, Confusius dan Sinto mempengaruhi prinsip etis para Samurai. Meditasi Zen penting untuk proses menenangkan pikiran. Konsep reinkarnasi dalam Budha telah mengabaikan rasa sakit dan takut akan kematian. Yang paling menonjol adalah filosofi Konfusius yang mempengaruhi hubungan antara seorang Samurai dengan tuannya. Dalam kedua novel Takashi, terceritakan bahwa para samurai tidak pernah punya inisiatif -kecuali untuk membunuh- hal ini menunjukkan betapa mereka setia terhadap tuannya, sehingga memperlihatkan bahwa tuannya bodoh pun enggan. Kedisiplinan dan etika keseharian yang penuh oleh ‘adat-adat kehormatan’ juga dipegang teguh oleh mereka. Genji Okumichi, Tokoh Bangsawan Agung yang progresif di zaman Edo, mengatakan bahwa produksi terbesar Jepang adalah bungkukan, bungkukan dan bungkukan, itulah kenapa Jepang tertinggal dari negara-negara Eropa.
Aturan lain yang paling sakral adalah ritual seppuku (bunuh diri) dimana mereka mendapatkan kembali kehormatan setelah mengalami kekalahan melalui kematian. Ritual ini wajib dilaksanakan kecuali ada pertanda-pertanda alam yang berusaha untuk menghalangi, hal ini diartikan para dewa menolak. Seperti dalam Jembatan Musim Gugur, leluhur Okumichi, Lord Hironobu dan ibunya Lady Kiyomi yang batal memotong leher diri sendiri.
Pada zaman Tokugawa, etika samurai dideklarasikan lebih jelas secara tertulis dalam Bushido (jalan hidup prajurit). Hal ini menyebabkan para samurai dapat dikontrol dengan mudah sehingga Tokugawa tetap berkuasa. Tetapi berhubung kesetiaan merupakan prinsip etis mereka yang utama, sehingga para samurai tidak banyak mengutarakan keberatan sampai Jepang tunduk pada cara-cara barat dan secara berangsur-angsur tradisi Samurai ini meluruh.
Peluruhan budaya samurai ini diangkat menjadi bagian cerita novel Takashi yang mengisahkan samurai klan Okumichi yang hidup di penghujung zaman Edo. Tepat saat ekspansi dari dunia luar memasuki Jepang. Dalam Kebingungan antara memilih meriam dan senapan alih-alih katana. Saat-saat akhir para samurai yang hidup antara mempertahankan hakikat dan martabat kesamuraian atau takluk tak berdaya pada pengaruh asing. Cukup disayangkan jika membaca novel ini hanya sekedar memindai, semua detil cerita dalam novel ini perlu divisualisasi baris per baris. Sangat elegan, mewah dan misterius.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.