Dan Brown, seorang Peneliti yang kebetulan Penulis

Saya penggemar fiksi thriller, khususnya genre legal, techno dan scientific. Bacaan sejenis ini dapat dengan mudah kita temui di jajaran buku sastra popular -best seller- jaman sekarang. Legal thriller akan kita temukan pada karya-karya Grisham, sedangkan untuk techno dan scientific, kita dapat menikmati karya Dan Brown, penulis yang melejit gara-gara Da Vinci Code.

Karakter Brown yang menggilai kriftografi dan kode memungkinkan Brown membawa tema berbau ’rahasia’ ke dalam tulisannya. Hal ini diperkuat lagi dengan tambahan tema ‘anti dan kontra’ dalam beberapa novelnya. Novel terlarisnya, Da Vinci Code, walaupun isinya menunjukkan sikap anti-kristen, tetapi justru bukunya merupakan cerita motivator yang dipergunakan sebagai katalis introspeksi, eksplorasi dalam diskusi dan debat religi. Begitu juga dalam novelnya yang lain, Digital Fortress (DF) dan Deception Point (DP), menunjukkan sikap anti-Amerika, tapi lagi-lagi dampaknya merupakan kebalikannya. Beberapa teman saya yang membaca buku-buku diatas merasakan hal yang sama, bukannya terperdaya alih-alih mengagumi betapa hebatnya pemerintahan Amerika. Brown memang HUMAS jempolan untuk pemerintahan Amerika.

Cuma sayangnya, dalam cerita DF dan DP ini, saya menemukan banyak sekali persamaan, mirip malah, padahal tahun penerbitannya terpaut enam tahun. Tapi hal ini tidak menutup kemungkinan kalau Brown menulis dua buku pada saat yang sama. Stephen King pernah memberitahukan hal seperti ini dalam novelnya, Bag of Bones. Dilatarbelakangi oleh dunia musik, Brown yang pernah menjadi pencipta lagu pada awal karirnya -menurut saya- sangat memungkinkan bila dia terbiasa menulis hal yang sama berulang-ulang. Ketika seseorang menciptakan lagu -dengan keterbatasan not dan inspirasi- pasti mereka hanya tertarik untuk menulis lagu dari genre yang sama kan? Ingat saja lagu-lagu Rod Stewart atau Kahitna, hampir semua terdengar sama. Mungkin hal inilah yang menyebabkan Brown seperti itu. 

Ketertarikannya terhadap sains-lah yang sangat menonjol darinya. Brown bukan seorang scientist, dia seorang guru Bahasa Inggris yang mempunyai hobi bermusik. Tetapi kemauan untuk risetnya menandingi para alumni Ilmu Murni atau Engineering sekalipun. Ilmuwan mana yang bersedia mengorek-ngorek tentang Anti-Materi, Riset Vatikan, Chrondules, Produk NASA, Struktur Kutub dan lapisan es, Illuminati, Kriftografi dan Politik sekaligus? Riset dalam berbagai bahasa yang berbeda pula? Ketertarikannya tentang ilmu pengetahuan-lah (dibahasakan oleh Ian Cadwell dan Dustin Thomason sebagai ‘observasi’) yang harus dicontoh oleh para pembacanya yang berniat menjadi penulis (atau penulis-penulis lain). Sehingga betul-betul menghasilkan karya tulis yang berisi dan tidak asal ketik.

Tapi ingat, The Wise Old Man pernah bilang: ’Mencuplik dari satu sumber adalah Plagiarism, tapi mencuplik dari berbagai sumber adalah Riset’ , saya kira inilah rahasianya Dan Brown.

~ by wittiyaa on June 4, 2008.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.