Bandung Hujan Es

Waktu akhir Maret kemarin, Bandung dihebohkan dengan fenomena hujan es. Hujan es yang hanya terjadi di kawasan tengah kota Bandung ini menimbulkan banyak pertanyaan. Banyak orang mempelesetkan fenomena ini sebagai ‘hujan yang terjadi karena kurang amal-amalan’. Mari kita tilik apa penyebabnya dengan sudut pandang yang lebih ilmiah.

Urban Heat Island

Awal mulanya berasal dari istilah UHI yang merupakan kependekkan dari Urban Heat Island. UHI adalah suatu kondisi dimana daerah perkotaan/urban mempunyai temperatur yang lebih panas pada permukaan maupun atmosfernya dibanding daerah pedesaan/suburban/non-urban. UHI merupakan contoh nyata perubahan iklim, hal ini terjadi karena secara tidak langsung proses urbanisasi mengubah karakteristik permukaan bumi dan atmosfer. Kenapa bisa mengubah karakteristik? Karena di daerah urban, pembangunan relatif lebih cepat akibatnya area yang tervegetasi menjadi tereduksi dan beralih menjadi lahan terbangun (perumahan, sekolah, pabrik, gedung bertingkat, mall). Material yang digunakan pada pembangunan tersebut akan menjebak sinar matahari pada permukaannya sehingga sinar yang dipantulkan sedikit, akibatnya panas akan tersimpan di permukaan dan memanaskan kota. Hal inilah yang menyebabkan temperatur di kota besar lebih tinggi daripada di daerah sekitarnya.

Fenomena UHI ini sudah diteliti dan dapat dibuktikan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Bandung dengan menggunakan citra satelit Landsat. Melalui penelitian tersebut dapat ditarik data akurat bahwa pada tahun 1994 suhu maksimum di tengah kota Bandung adalah 29°C. Sedangkan pada tahun 2001 melonjak menjadi 34°C di tempat yang sama. Suhu akan semakin rendah ke daerah sekelilingnya menuju daerah bervegetasi atau pegunungan.

Pemanasan kota ini dapat dikendalikan dengan menanam pohon di sekitar bangunan. Hal ini akan menambah naungan permukaan daerah urban untuk mengurangi suhu panas. Pohon yang terdapat di area parkir yang terbuka akan mengurangi emisi evaporasi dari bensin yang secara signifikan akan meningkatkan jumlah ozon. Green roofs atau atap penanaman vegetasi di atas bangunan juga bermanfaat untuk meredam panas yang terakumulasi dari gedung. Chicago telah menerapkan hal ini sejak 2004. Menambah ruang hijau terbuka disamping bermanfaat untuk mendinginkan pemanasan juga akan menambah keindahan tata kota.

Hujan Es

Kita telah mengulas sedikit tadi mengenai fenomena UHI yang menyebabkan pemanasan kota. Sekarang bagaimana hubungannya dengan hujan es? Pada musim hujan, bila hujan terus menerus turun membasahi tanah, lama-lama tanah akan jenuh dan tidak bisa lagi menyerap air hujan. Kondisi jenuh ini merupakan masa istirahat bagi tanah dimana sudah tidak ada penguapan yang bisa membentuk awan yang berpotensi menimbulkan hujan. Masa jenuh ini biasanya berlangsung selama tiga hari. Tetapi patut diingat, selama tiga hari ini tanah terus menerus mendapatkan pancaran radiasi matahari dan menyimpan energi laten sehingga udara menjadi panas dan terjadilah penguapan dengan cepat. Air yang teruapkan ke atas itu membentuk awan bersel tunggal yang berlapis-lapis atau lebih dikenal dengan awan kumulonimbus (Cb). Awan Cb ini akan naik hingga ke ketinggian 10 ribu meter diatas permukaan laut dengan suhu mencapai -40°C. Pada kondisi suhu serendah itu, awan Cb menjadi kristal es. Ketika jatuh ke permukaan bumi, kristal es itu tidak sepenuhnya mencair sehingga terjadilah hujan es.

Hujan es biasanya disertai dengan angin kencang yang berlangsung selama tiga sampai lima menit atau bahkan sepuluh menit. Pada daerah dengan suhu tinggi inilah, awan dapat terbentuk dengan singkat dan dalam skala yang sempit. Sehingga mudah dipahami kenapa hujan es hanya terjadi di tengah kota yang bersuhu tinggi dan tidak merata, tepatnya pada daerah UHI tersebut (ternyata bukan soal amal-amalan kan? hehe)

Untuk mengenali akan adanya hujan es adalah:

1. pada musim pancaroba

2. bisa terjadi pada musim hujan dengan diawali panas terus menerus selama tiga hari

3. bisa terjadi pada siang, sore atau malam

4. pada jam 10 pagi biasanya awan Cb bisa terlihat jelas

5. angin dengan hawa dingin akan tertiup kencang

Hujan es memang sulit untuk diperkirakan, tetapi bila kita tahu indikatornya, kita bisa berjaga-jaga, setidaknya kita bisa mengurangi aktivitas di luar rumah. Yang lebih penting dari semuanya adalah tindakan kita yang terus berusaha untuk mengurangi dampak pemanasan global. Mulai sekarang semua pihak berkewajiban untuk mengaplikasikan pembangunan yang berwawasan lingkungan serta bersama-sama belajar untuk menjadi warga bumi yang bertagline-kan ‘go green’.

Sedikit pertanyaan bijak dari The Wise Old Man : “If the climate changes in a global level, why can’t people?”***

Sumber-sumber ilmiah berasal dari artikel Laras Tursilowati, Peneliti Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN Bandung

~ by wittiyaa on May 13, 2008.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.